Algoritma siap mencetak data scientist andal dalam waktu singkat
Pesatnya kehadiran startup hingga layanan e-commerce yang berbasis teknologi saat ini, memunculkan posisi baru yang memiliki peranan penting dalam bisnis. Mulai dari data analyst, data engineer, dan data scientist, semua posisi tersebut makin di cari namun terbilang masih sedikit jumlahnya.
“Algoritma menyediakan pelatihan intensif data science bagi siapa saja yang tertarik menjadi data scientist dalam waktu singkat”, kata Co-founder Algoritma Nayoko, kemarin. Sebagai penyedia pendidikan data science satu-untuk-semua, Algoritma membantu setiap siswanya bukan hanya dalam kebutuhan akademis namun juga pekerjaan.
Data science adalah pengetahuan yang dibutuhkan untuk memperoleh data, menganalisanya, sampai melaporkan hasil data yang dapat ditampilkan dalam bentuk matrik bisnis sampai perilaku pengguna dalam perusahaan.
Algoritma memberikan pelatihan data science disertai dengan contoh dan aplikasi yang sebenarnya di dunia kerja, dukungan pengembangan karir, jaringan korporat dan komunitas, serta bantuan dari mentor yang ahli di bidangnya masing-masing. Algoritma juga menyediakan kesempatan bekerja bagi para lulusan yang memenuhi kualifikasi tertentu.
Kurikulum Algoritma dibagi menjadi dua spesifikasi, yakni visualisasi data dan machine learning. Dalam dua spesifikasi ini, setiap siswa akan belajar menggunakan bahasa pemrograman R dan/atau Python. Setiap siswa tidak diwajibkan untuk mengambil dua spesifikasi sekaligus karena masing-masing spesifikasi mempunyai projek yang berbeda di akhir akademi.
Setiap peserta dapat mendaftarkan diri untuk mengikuti spesifikasi visualisasi data atau machine learning atau keduanya. Masing-masing kelas akan berlangsung dengan maksimal peserta sebanyak 20 orang dan setiap peserta akan dibantu oleh asisten pengajar. Iklim belajar di Algoritma didesain senyaman dan seefektif mungkin agar setiap peserta berhasil menyelesaikan projek yang ditugaskan di akhir akademik.
Evolusi data science sedang terjadi di masa kini dan masih akan terus berlanjut di masa depan. Banyak perusahaan di Indonesia yang sudah mengumpulkan data dari aktivitas bisnis mereka, namun banyak juga yang belum mampu mengubah data tersebut menjadi informasi. Hal ini diakibatkan oleh kurangnya kompetensi internal, terutama data scientist di perusahaan.