Hillary Clinton akhirnya buka suara soal teknologi kecerdasan buatan (AI, Artificial Intelligence)
Hillary yang sempat menjadi kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45 tersebut, berpendapat AS tidak siap menerima adopsi kecerdasan buatan. Apalagi, pengembangan teknologi ini ia anggap terlalu cepat dan agak dipaksa.
Seperti dilansir Ubergizmo Hilary mengatakan dampak dari adopsi kecerdasan buatan yang terlalu dini bisa merusak bidang sosial dan ekonomi negara adidaya itu. “Amerika Serikat sepertinya memang sedang terburu-buru untuk terlihat canggih. Padahal menurut saya, kita seharusnya belum sampai pada era teknologi berbasis kecerdasan buatan dan kecerdasan buatan yang bisa mengancam pekerjaan manusia di masa depan. ” kata Hillary.
Ia menilai, jika para petinggi perusahaan teknologi tidak berupaya untuk menyeimbangi dan mengontrol kecerdasan buatan, pekerjaan manusia bisa digantikan secara perlahan. AI akan memberikan dampak mengenai bagaimana seharusnya manusia hidup, berpikir, bahkan cocok dengan sesama. Banyak orang cerdas, seperti Bill Gates, Elon Musk, dan Stephen Hawking yang sudah memberikan sinyal mengenai AI tersebut. Bahkan mereka mengatakan, AI bukan sahabat bagi manusia.
Clinton mengambil contoh mobil tanpa pengemudi. Mungkin ide bagus dengan teknologi tersebut tetapi manusia seolah tidak memiliki peran. Begitu pula dampaknya bagi sosial manusia.
Ketika bus dan truk bisa berjalan tanpa pengemudi tentu akan mengakibatkan profesi sopir truk dan bus tidak lagi ada. Nasib para pengemudi juga mengkhawatirkan. Bumi juga akan merasa tidak baik ketika banyak orang tak lagi memiliki pekerjaan.
Karena itu, Hllary mengimbau para petinggi perusahaan teknologi yang juga menjadi ‘pemerhati’ kecerdasan buatan–mulai dari Mark Zuckerberg, Bill Gates Elon Musk, hingga Stephen Hawking–bekerjasama untuk mencari titik temu agar kecerdasan buatan tidak lepas dari kodrat yang telah ditetapkan.